Teror kobra benar-benar tersebar luas di beberapa daerah di Indonesia, terutama di musim hujan seperti sekarang. Dalam beritanya, kobra juga sering dijumpai di beberapa kawasan perumahan. Lalu bagaimana cara membantu kapan digigit ular beracun dan bagaimana mencegah ular memasuki rumah?

Membantu ketika digigit ular berbisa menurut para ahli

Menurut dr. dr. Tri Maharani, M.Sc, Sp.Em, teror kobra yang baru-baru ini menyebar sebenarnya terjadi setiap tahun. Namun, tahun ini masyarakat telah lebih berhati-hati dan dididik tentang cara menangani ular. Dengan cara itu, mereka sibuk berburu ular kobra dan telur.

Meski begitu, menurut dr. Tri, yang juga ahli toksikologi, pengetahuan masyarakat tentang manajemen racun ular masih relatif rendah. Dia menambahkan, tidak sedikit orang yang masih percaya pada dukun untuk menangani kasus racun ular.

Belum lagi pemahaman bahwa garam, bahan kimia, serat atau parfum dapat mengusir binatang reptil ini. "Bahkan lesi yang disebabkan oleh gigitan ular tidak boleh disedot atau disedot dan tidak memotong kulit yang terkena gigitan ular untuk darah," kata Dr. Tri ketika dihubungi melalui telepon.

Kenapa begitu? Ini karena ular tidak bisa melewati pembuluh darah, tetapi melalui getah bening. Ini juga yang membuat banyak korban gigitan ular yang belum selamat. Ingatlah bahwa kobra bisa dominan mycrotoxin. cardiotoxin. neurotoxin dan cytotoxin.

Baca juga: Digigit ular? Jangan panik!

Nah, cardiotoxin dan neurotoxin itu adalah penyebab paling umum kematian akibat racun. Ini bisa masuk ke tubuh dan menyebar melalui kelenjar getah bening. Periode waktu untuk menyebabkan kematian ini juga tergantung pada jumlah racun yang masuk ke dalam tubuh, Gengs.

Jika banyak cardiotoxin dan neurotoxinoleh karena itu korban dapat mati dalam hitungan jam atau bahkan menit. Tidak mungkin untuk memberikan kerusakan sel karena antibodi ini yang dapat mencegah semua jaringan tubuh berfungsi dan mati, seperti otot, pembuluh darah, saraf, dan sebagainya.

Ketika diserang oleh gigitan ular, Dr. Tri bersikeras untuk tetap tenang dan beristirahat. Selanjutnya, pasang belat yang bisa mengurangi gerakan. Ini disebut imobilisasi. "Tujuan imobilisasi adalah untuk menunda penyebaran racun ke seluruh tubuh dan merusak organ tubuh kita," kata Dr. Tri.

Imobilisasi dilakukan dengan menghalangi bagian-bagian tubuh yang sakit, seperti tangan atau kaki dengan dua potong kayu atau bambu. Selain itu, jangan ikat terlalu kencang dengan kain karena tujuannya bukan untuk menghalangi aliran darah, tetapi agar bagian tubuh yang terlibat tidak banyak bergerak.

Baca juga: Selain ruang gawat darurat, cari tahu tentang obat gigitan ular

Selanjutnya, segera bawa orang yang terkena gigitan ular atau korban ke layanan kesehatan terdekat. Namun, sayangnya diakui oleh Dr. Tri, masih sangat sedikit rumah sakit di Indonesia yang menyediakan serum antibakteri disertai oleh tenaga medis yang sadar akan penanganan gigitan racun hewan yang berkualitas.

"Meskipun ada 348 jenis ular di Indonesia, 76 di antaranya beracun. Tidak hanya gigitan ular yang harus diwaspadai, tetapi juga hewan berduri seperti tawon atau ubur-ubur, serta jenis hewan lainnya," jelas Dr. Tri.

Oleh karena itu, Dr. Tri mendesak Kementerian Kesehatan untuk segera mengeluarkan program penanganan hewan beracun bagi dokter dan perawat. Program ini akan mencakup latihan, publikasi panduan dan penelitian. Tri sendiri sering melatih dalam pengelolaan gigitan hewan beracun, baik untuk dokter, perawat, dan komunitas yang menyukai reptil.

Baca juga: Inilah yang harus dilakukan ketika disengat oleh ubur-ubur

Selanjutnya, merujuk pada pedoman WHO untuk mencegah masuknya hewan beracun, seperti ular ke dalam rumah, ia menyarankan untuk membersihkan rumah dari tikus, katak atau unggas yang diburu oleh ular. Juga, bersihkan halaman sekali seminggu dengan memotong rumput dan cabang-cabang pohon sehingga tidak menjadi sarang ular.

sumber:

Wawancara dengan spesialis darurat Dr. dr. Tri Maharani, M.Sc, Sp.Em.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here